Author Archives: Kabumi

Tari Saman sebagai Wujud Warisan Budaya yang Dimiliki Indonesa serta Telah Diakui UNESCO

Category : Artikel , News , News , Slider

Tari merupakan asset budaya yang paling beragam yang dimiliki Indonesia. Indonesia memiliki begitu banyak suku dan budaya sehingga banyak jenis tarian yang memiliki ciri khas masing-masing. Tarian-tarian ini ada yang merupakan budaya asli Indonesia yang berasal dari akulturasi jejak religius seperti Hinduisme, Buddhisme, dan Islam (arab) ada juga yang berasal dari pengaruh Cina, Eropa, dan budaya-budaya lainnya yang pernah berhubungan dengan Indonesia. Keunikan dari tiap tarian yang dimiliki tiap suku adalah pesona yang memberikan keindahan budaya Indonesia, sekaligus menjadi identitas bagi suatu daerah pendukung karya budaya tersebut. Salah satu kesenian tari yang dimiliki Indonesia dan sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan tak benda pada 2011 di Bali yaitu Tari Saman.

            Menurut masyarakat, Tari Saman merupakan tari tradisional khas suku Gayo yang bertempat di Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Aceh tenggara. Kata Saman sendiri diambil dari nama penciptanya yaitu seorang ulama asli Gayo Syekh Saman sekitar abad 14 Masehi. Tari saman awalnya hanya sebuah permainan rakyat yang bernama Pok Ane. Pada saat itu Tari Saman dijadikan sebagai media dakwah oleh para ulama yang ditampilkan di acara tertentu karen iringan syair-syair yang digunakan berisikan pujian-pujian kepada Allah SWT. Formasi Tari Saman dilakukan dengan posisi duduk sama halnya dengan posisi duduk dalam shalat dan juga membentuk barisan lurus yang dipimpin oleh seorang syekh sebagai pemimpin pertunjukan.. Sebenarnya dari sejarah singkat diatas belum dapat disepakati penuh untuk dijadikan pegangan kuat sejarah Tari Saman itu sendiri. Akan tetapu, ada sesuatu yang kuat mendukung tari saman berasal dari masyarakat Gayo yaitu setiap kampung di daerah gayo pasti ada tari Saman.

            Penampilan Tari Saman memiliki seberapa tahap yaitu : 1) Persalaman, dalam tahap ini diiringi lagu Regum sebagai mukadimah dari Tari Saman. 2) Uluni Lagu, ciri dari kegiatan ini menggunakan gerakan yang lembut dengan nyanyian yang tidak terlalu bervariasi. 3) Lagu-lagu, tahap ini menampilkan beragam lagu yang diiringi Jangin atau Syair dengan irama yang disesuaikan dengan irama tari. 4) penutup, lagu penutup itu Anakin lagu biasanya dilakukan dengan gerakan selang seling atau surang saring. Syair pada bagian ini biasanya bervariasi. Terdapat 5 macam nyanyian atau lagu yaitu Rengum, Dering, Redet, Syekh, dan Saur. Awalnya, Tari Saman hanya dilakukan oleh para lelaki yang berjumlah belasan hingga puluhan dan jumlahnya ganjil. Namun, pada perkembangannya tarian ini dilakukan oleh kaum perempuan.

            Sampai saat ini banyak prestasi yang pernah diraih oleh Indonesia dengan Tari Saman dantaranya : Tari Saman mulai populer (di luar suku Gayo) pada tahun 1972 yaitu pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-2. Lalu Tari Saman dari Aceh Tenggara pertama sekali diundang ke Jakarta tahun 1974 saat peresmian Taman Mini Indonesia Indah. Berikutnya tahun (1975) tari Saman diundang kembali ke Jakarta dalam rangka peringatan hari ulang tahun ke-30 RI. Tahun 1977 tari Saman kembali menjadi wakil Aceh dalam Festival Tari Rakyat I di Jakarta dan tahun berikutnya (1978) menjadi wakil Aceh mengikuti Festival Jakarta. Sejak tahun 1974, tari Saman sudah dikenal luas di Jakarta dan juga pernah tampil di Istana Negara saat tamu negara datang yakni Presiden Ersyad dari Bangladesh dan Raja Husein dari Yordania (1986). Selain itu, Saman Pemda juga pernah mengikuti kegiatan KIAS ke-1 di Amerika (1990) dengan tampil di tiga negara bagian, dan KIAS ke-2 dengan tampil di delapan negara bagian. Tari Saman Pemda ini juga pernah diundang ke Spanyol acara Ekspo Kesenian sedunia, kemudian ke Malaysia, ke Australia, dan terakhir mereka diundang ke Jerman. Tari Saman juga selalu ikut dalam Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) III tahun 1988, PKA IV tahun 2004, PKA V 2009, dan PKA VI tahun 2013. Tari saman menerima penghargaan sebagai “Absolute World Champion of Folklore 2014” dalam ajang “IV World Championship of Folklore 2014” di Bulgaria. Mahasiswa UI sebagai wakil dari Indonesia juga berhasil meraih prestasi di ajang kompetisi seni dan budaya di kancah dunia dengan perolehan Juara Grandprix (Juara Umum) atas pertunjukan Tarian Tradisional Saman di ajang The 7th World Championship of Folklore yang berlangsung pada 17 – 27 Agustus 2017 di Bulgaria. Tahun 2018 Tari Saman kembali membuat kagum penonton dalam negeri maupun luar negeri dalam acara Opening Ceremony Asean Games yang diadakan di Stadion Gelora Bung Karno.

Tari Saman telah ditetapkan UNESCO sebagai Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia dalam Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Tak benda UNESCO di Bali, 24 November 2011. Dan kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga dengan kesenian yang kita miliki. Karena itu adalah warisan yang harus kita jaga dan lestarikan agar tidak punah. Diharapkan seluruh kalangan masyarakat Indonesia seperti penggiat seni kebudayaan, akademisi, maupun masyarakat umum bersama sama melestarikan Tari Saman baik langsung maupun tidak langsung.

Oleh                : Diah Indriati

Sumber            : Ambarwati, Eka. Lusiyana Triyawati., dan Mawar Sari. 2018. Tari Saman Wujud Warisan dan Unsur Kekuatan Budaya Indonesia yang Mendunia. Prosiding SENASBASA. 1(3): 259-263


KESENIAN RAMPAK KENDANG JAWA BARAT

Category : Artikel , News , News , Slider

Oleh Khairunnisa Imtinan Dianti

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, setiap daerah memiliki ciri khas keragaman kebudayaan masing-masing. Bahkan UNESCO menilai Indonesia adalah negara super power kebudayaan. Sebagai contohnya ada di daerah Jawa Barat yang kaya akan ragam seni dan budayanya.  Di antara banyaknya kesenian yang lahir di Jawa Barat, terdapat seni kreasi musik yang bernama ‘Rampak Kendang’. Kesenian rampak kendang pertama kali dipertunjukkan pada tahun 1978 oleh dua seniman Sunda yaitu Suwanda dan Dali di Bandung. Kesenian rampak kendang sangat populer dan menjadi berkembang pada tahun 1980 dan tahun 1990. Istilah rampak berasal dari bahasa Sunda yang artinya serempak atau bersama. Sedangkan kendang merupakan waditra (alat musik) dalam gamelan degung, dalam bahasa Jawa kendang disebut dengan gendang. Sehingga rampak kendang diartikan sebagai sebuah seni pertunjukkan rakyat yang dilakukan bersama-sama dengan menabuh beberapa kendang. Dalam kesenian Sunda peran kendang sangat penting dan dominan karena suaranya yang khas. Selain itu, kendang dipakai untuk pengiring tari-tarian maupun pencak silat.

Rampak kendang biasanya dimainkan oleh dua orang lebih dengan menggunakan kostum menarik yang sama dengan keahlian khusus dalam menabuh kendang. Masing-masing pemain memainkan kendang indung (besar) dan dua kendang kulanter (kecil), berada di barisan paling depan. Selain itu ada pengrawit atau pemain karawitan (gamelan) berada di belakang atau di samping pemain gendang dengan menggunakan busana takwa lengkap dengan kain sinjang dan udeng (ikat kepala). Saat pertunjukkan berlangsung, para pemain menempati posisi masing-masing di depan alat musik kendang yang digunakannya. Setelah itu diberikan aba-aba gending dari para pengrawit gamelan yang akan memulai aksi pemain kendang agar bisa memainkan komposisi lagu tetabuhan secara bersamaan atau bergantian dengan menggerakan tangan, kepala, serta badannya sambil tetap sesekali memainkan kendang menghasilkan alunan musik yang penuh energik dengan gerakan yang menghentak dengan memiliki keselarasan dan kekompakannya. Bahkan tidak jarang para pemain kendang berteriak atau diam secara tiba-tiba dalam waktu yang bersamaan.

Pertunjukkan rampak kendang mulanya dibawakan oleh laki-laki yang memiliki keahlian khusus dalam menabuh kendang. Dengan berkembangnya zaman, rampak kendang sekarang dibawakan oleh perempuan dan menjadi ciri khas, sebab untuk memukul kendang sambil menampilkan gerakan yang atraktif dan dinamis, tentunya membutuhkan energi yang kuat serta keseimbangan dan kekompakkan para pemain kendang. Tidak lupa juga senggakan-senggakan yang menjadi ciri khas Sunda ditampilkan pada saat memainkan rampak kendang. Dalam mengatur nafas dan kekuatan memukul menjadi tantangan terbesarnya. Rampak kendang erat kaitannya dengan bunyi tetabuhan yang muncul sebelumnya, yakni Kendang Pencak. Kendang pencak terdiri dari dua bagian yang saling mengisi, kedua kendang tersebut menciptakan bunyi yang berbeda untuk menghasilkan harmoni. Kendang pencak menjadi sumber inspirasi bagi kelahiran rampak kendang, pukulan tepak kendang tari Jaipong yang dijadikan pola tabuhan pokoknya. Kesenian ini tercipta sebagai karya seni kreasi baru yang lahir bersamaan dengan seni tari Jaipongan. Adanya pengalaman estetis dan inovatif dari berbagai macam proses yang terjadi dapat membentuk terciptanya sebuah seni rampak kendang yang hingga saat ini terus berkembang.

Pertunjukkan rampak kendang biasanya digelar untuk mengisi berbagai acara kebudayaan atau resepsi, baik di dalam ruangan maupun di panggung khusus. Lamanya pertunjukkan biasanya bergantung pada alokasi waktu yang diberikan kepada para pemain kendang, biasanya antara 3 sampai 15 menit. Walaupun sifatnya hiburan, kesenian rampak kendang juga memiliki nilai-nilai filosofis yang mencerminkan masyarakat Sunda yang harmonis dengan berlandaskan gotong-royong antar sesama manusia dan memiliki sifat ceria.

Dalam perkembangan teknologi yang sangat pesat, tentunya kesenian tradisional seperti rampak kendang harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Selain kendang sebagai alat musik utama yang digunakan dalam rampak kendang. Ada juga alat musik lain seperti rebab, gitar dan alat gamelan lainnya yang ketika dipadukan akan mebentuk suatu irama yang energik dan penuh semangat. Rampak kendang dikemas secara menarik dan sering dikolaborasikan dengan kesenian lainnya seperti gamelan Jawa dan alat musik modern seperti drum set, piano dan gitar. Agar bisa dinikmati oleh semua penikmat seni yang ada di Indonesia juga mancanegara. Sudah sewajarnya sebagai warga negara kita wajib berbangga dengan budaya Indonesia yang beraneka ragam dari berbagai suku di penjuru tanah air Indonesia. Kita harus berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan sebagai identitas bangsa Indonesia.

Sumber:

Anonim. 2019. Wikipedia Indonesia.www.wikipedia.org/wiki/Rampak_Kendang. Diakses tanggal 3/11/2020.

Saepudin, Asep. 2013. Konsep dan Metode Garap dalam Penciptaan Tepak Kendang Jaipongan. Jurnal Seni dan Budaya Panggung. 23(1): 1-108.

Siswantari, Heni. 2018. Rampak Kendang Patimuan Cilacap Sebagai Wujud Difusi Kesenian Jawa Barat. Jurnal Kajian Seni. 4(2): 103-113.


ANGKLUNG, WARISAN BUDAYA SUNDA

Category : Artikel , News , News , Slider

The power of angklung bisa menghilangkan ego. Karena setiap angklung memiliki satu nada sehingga perlu bersama-sama memainkannya agar tercipta melodi dan harmoni. Nature and Culture in Harmony, filosofinya.”         

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Terbuat dari bahan dasar berupa potongan bambu. Alat musik ini terdiri dari 2 sampai 4 tabung bambu yang kemudian dirangkai menjadi satu dengan tali rotan. Masing-masing tabung bambu dipotong sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan alunan nada yang berbeda dan indah ketika bambu digoyangkan. Bunyi yang bergetar membentuk susunan nada yang berbeda dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras atau tangga nada alat musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog. Laras salendro merupakan sistem urutan nada yang terdiri dari lima nada dalam satu gembyang (oktaf), nada diantaranya; 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem). Istilah ji, ro, lu, mo, nem tersebut merupakan nama singkatan angka dari bahasa Jawa. Laras salendro ini dapat memunculkan perasaan gembira, ramai, menyenangkan, juga mampu menghasilkan suasana kesedihan, kerinduan, rasa cinta, dan lain-lain. Sedangkan laras pelog merupakan tangga nada yang berbeda dengan laras salendro. Nada-nada tersebut diantaranya; 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 4  (pat), 5 (mo), 6 (nem) dan 7 (pi). Susunan tangga nada pelog kurang lebih sama dengan susunan tangga nada mayor (do, re, mi, fa, so, la, si, do). Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah semua jenis awi temen (bambu berwarna putih) dan juga awi temen wulung (bambu berwarna hitam).

Angklung merupakan tabung bambu yang ketika digoyangkan, dapat menghasilkan satu nada setiap angklungnya. Alat musik angklung ini pun juga telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Karya Agung Warisan Budaya Takbenda sejak November 2010 waktu setempat di Nairobi, Kenya. Menurut UNESCO, angklung telah memenuhi kriteria sebagai warisan budaya takbenda dunia antara lain karena, angklung merupakan bagian penting identitas budaya masyarakat di Jawa Barat dan Banten. Juga angklung mengandung nilai-nilai dasar kerjasama, saling menghormati, dan keharmonisan sosial. Menurut filosofi para Karuhun Urang Sunda zaman dahulu, kehidupan manusia diibaratkan seperti angklung. Tabung tersebut mempersonifikasikan manusia, yakni menggambarkan manusia harus hidup bersosialisasi. Tidak hanya itu, tabung angklung yang terdiri dari tabung besar dan kecil diibaratkan sebagai perkembangan manusia. Kedua tabung tersebut mempunyai makna bahwa manusia tahu dan paham akan batasan-batasan dirinya, menciptakan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.

Angklung diceritakan sangat erat kaitannya dengan budaya agraris masyarakat Sunda yang mengandalkan pertanian sebagai penghidupannya. Dalam sejarah, dahulu terdapat Kerajaan Sunda di nusantara dan dikatakan bahwa instrumen musik bambu hadir dalam lingkup budaya agraris tersebut. Menurut I Ketut Yasa, masyarakat agraris untuk mencapai keberhasilannya menggunakan dua jalur, yaitu yang bersifat rasional dan irrasional. Jalur rasional bisa dilihat dari bagaimana masyarakat agraris di tatar Sunda dalam mengolah lahan, membuat alat-alat bantu dan lain-lain. Adapun jalur irasional, ada kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan. Orang-orang Baduy yang dianggap sebagai sisa-sisa suku Sunda asli, menerapkan alat musik bambu sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Kemudian, permainan alat musik bambu dengan membawakan lagu-lagu sebagai persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci disertai dengan pengiring tabuh.

Dalam kapasitasnya sebagai alat musik, angklung merupakan bentuk alat musik hasil kreativitas individu pembuatnya. Pada jaman dahulu awal adanya alat musik angklung hanya terdiri dari Laras salendro dan pelog yang mana meliputi Angklung Tradisional Dogdog Lojor, Angklung Baduy, Angklung Buncis Banten Kidul, Angklung Buncis Cigugur, Angklung Gubrag, dan Angklung Badeng dan seiring berjalannya waktu angklung mulai berkembang dalam Laras yang digunakan yaitu diatonis kromatis yang terdapat pada Angklung Padaeng. Bentuk dasar angklung di atas semuanya itu sama, terdiri dari susunan potongan bambu bernada dan rangka tempat meletakkannya. Perkembangan angklung ini dipelopori oleh tokoh yang sangat berperan dalam pelestarian angklung, yakni Udjo Ngalagena dan Daeng Soetisna. Nada tradisional berlaras pelog dan salendro yang dikembangkan oleh seorang tokoh Udjo Ngalagena ini kemudian diinovasikan oleh salah seorang tokoh bernama Daeng Soetisna menjadi tangga nada diatonis kromatis sehingga membuat angklung semakin leluasa dimainkan harmonis bersama dengan alat-alat musik barat.

Penyebaran angklung ini begitu meluas dan tersebar sehingga menimbulkan perkembangan dan menciptakan keanekaragaman jenisnya. Umumnya, perbedaan berkisar pada variasi rangka, hiasan, serta jumlah tabung (nada). Pertama, Angklung Kanekes yang berkembang di wilayah Kanekes berfungsi bukan semata-mata untuk hiburan, namun menjadi bagian dari ritus padi yang dibunyikan secara bebas (dikurulungkeun). Biasanya dibunyikan ketika masyarakat menanam padi di ladang. Kedua, Angklung Reyog yang berkembang di Jawa Timur dan digunakan sebagai pengiring tarian Reyog Ponorogo. Ciri khas dari angklung ini adalah bersuara keras dengan dua nada serta berbentuk lengkungan rotan yang menarik dengan hiasan benang berumbai indah. Hasil suara yang dihasilkan pun sangat khas, yakni ‘klong-klok’ dan ‘klung-kluk’. Ketiga, Angklung Banyuwangi yang berkembang di Jawa Timur yang difungsikan untuk ronda atau membantu jaga malam. Keempat, Angklung Dogdog Lojor yang tersebar di sekitar Gunung Halimun dan berfungsi untuk memeriahkan acara khitanan dan acara-acara lainnya. Kelima, Angklung Gubrag yang berkembang di Bogor dan berfungsi untuk menghormati Dewi Padi dalam kegiatan menanam padi, mengangkut padi, dan menempatkan ke lumbung. Keenam, Angklung Badeng yang berkembang di Garut dan berfungsi untuk kepentingan dakwah Islam dan untuk acara-acara yang berhubungan dengan penanaman padi. Ketujuh, Angklung Buncis yang berkembang di Baros (Bandung) yang awalnya digunakan sebagai ritual yang berhubungan dengan padi dan sekarang difungsikan sebagai hiburan semata. Angklung Buncis ini berlaras salendro. Selanjutnya, Angklung Padaeng atau sering dikatakan sebagai angklung nasional dengan tangga nada diatonis kromatis yang diciptakan oleh Daeng Soetisna. Adapun yang terbaru, ada Angklung Toel yang diciptakan Kang Yayan Udjo serta Angklung Sri-Murni yang digagas oleh Eko Mursito Budi yang khusus diciptakan untuk keperluan robot angklung.

Alat musik tradisional angklung ini pun menjadi salah satu objek pembelajaran sekaligus pelestarian kebudayaan Jawa Barat yang juga dikelola oleh KABUMI UPI dalam mengembangkan sekaligus melestarikan kebudayaan nusantara melalui para mahasiswa pecinta dan pegiat budaya yang berada di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Angklung yang terdapat di KABUMI ini terdata ada sebanyak 200-an buah. Sehingga dengan diterbitkannya artikel ini, penulis mengharapkan agar pembaca mampu menambah wawasan serta memiliki kepekaan dan kecintaan yang tinggi terhadap budaya nusantara, khususnya alat musik tradisional angklung sehingga warisan yang kita miliki bersama ini dapat terus ada dan terjaga.

Oleh : Vivi Wulandari – KABUMI UPI

Sumber :

Hermawan, D. (2013). Angklung Sunda sebagai Wahana Industri Kreatif. Jurnal Seni dan Budaya, 172-175.

Rosyadi. (2012). Angklung: Dari Angklung Tradisional ke Angklung Modern. Jurnal Patarjala, 29-37.


Seni Pedalangan : Wayang Golek Giri Harja Jawa Barat

Category : Artikel , News , News , Slider

Apa sih wayang golek itu? Mungkin beberapa dari kalian masih belum yakin betul apa itu wayang golek, Wayang Golek adalah salah satu seni pertunjukan yang berkembang di Jawa Barat. Berbeda dengan wayang kulit dua dimensi, wayang golek termasuk wayang trimatra atau tiga dimensi. Wayang golek termasuk salah satu warisan budaya yang masih eksis sampai saat ini, seiring berjalannya waktu perkembangan wayang golek terus terjadi terutama dalam bentuk wayangnya itu sendiri. Pertunjukan wayang golek telah menjadi salah satu warisan budaya yang diakui UNESCO pada 7 November 2003 sebagai Masterpeace of Oral and Intangible Heritage of Humanity. Pertunjukan wayang golek pun tidak hanya menonjolkan sisi estetika saja tetapi juga nenunjukan nilai-nilai yang hadir dari masyarakat pendukungnya. Maka munculah kode etik pedalangan yang berbunyi Sapta Sila Kehormatan seniman Seniwati Pedalangan Jawa Barat.

Keunikan dari pertunjukan wayang golek terletak pada kolaborasi antara unsur seni yang digunakan, diantarannya seni sastra, seni musik/ karawitan, seni drama, dan seni rupa yang satu sama lain harus berjalan beriringan sehingga dapat berjalan dengan sempurna. Seni sastra hadir saat dalang mulai menceritakan alur cerita dengan pemilihan bahasa yang indah untuk didengar. Seni musik/ karawitan berperan untuk membantu penonton masuk lebih dalam kedalam suasana cerita yang diangkat. Saat memerankan tokoh tertentu, walaupun menggunakan wayang, penghayatan tokoh itu sangat penting yang mana dapat ditemukan dalam seni drama. Dan yang terakhir adalah seni rupa yang mana sangat dominan terlihat dalam pertunjukan wayang golek, seperti terlihat dalam wayang yang digunakan dan setting tempat pertunjukan membutuhkan dukungan artistik yang bertujuan untuk mendukung suasana cerita agar lebih mudah tergambar suasananya.

Giri Harja merupakan nama sebuah desa seni di Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Nama desa ini berasal dari sebuah grup wayang golek Abah Sunarya yang sudah dikenal bahkan sampai mancanegara. Kelompok kesenian wayang golek ini dipimpin oleh Alm. H. Asep Sunandar Sunarya. Para seniman-seniman dari Giri Harja ingin mengembangkan kemampuan secara maksimal didalam berkeseniannya bukan hanya sesaat tapi terus turun temurun dari generasi ke generasi. Selain belajar secara tradisional, banyak di antara para seniman yang memperoleh pendidikan secara formal di bidang seni, seperti di lembaga pendidikan STSI, UPI dan UNPAD di Bandung. Tingkat seni mereka sudah diakui di masyarakat Sunda maupun di bidang yang lebih khusus dalam pertunjukan wayang (festival, binojakrama) baik dalam maupun luar negeri. Banyak mahasiswa atau wartawan yang tertarik dengan wayang golek Sunda dari mancanegara sering mengunjungi Giri Harja sebagai pusat unggulan observasi terkait seni tradisional khususnya wayang golek.

Pada tahun 2009 Abah Asep telah merencanakan pembangunan padepokan yang beliau impikan dengan bantuan semua pihak. Pada tahun 2014 bangunan ini selesai di bangun meskipun masih ada beberapa hal yang harus di lengkapi. Bangunan ini dinamakan Padepokan Giri Harja, akan tetapi sangat disayangkan ketika pembangunan pedepokan selesai dan belum di resmikan, Abah Asep tidak bisa menyaksikan peresmian yang akan dilakukan pada tahun 2014 itu, karena Abah Asep tutup usia pada tanggal 31 Maret 2014 akibat sakit jantung yang telah lama di derita oleh beliau. Akan tetapi salah satu impian Abah Asep telah terwujud yaitu berdirinya sebuah padepokan yang akan melestarikan wayang golek juga yang akan melahirkan para seniman yang akan melanjutkan perjuangan Abah Asep. Sampai saat ini, grup wayang golek keluarga Sunarya masih berjaya hingga turun temurun sampai Giri Harja II dan Giri Harja III. Abah Sunarya mendirikan Padepokan Pusaka Giri Harja sebagai tempat kursus pedalangan wayang golek purwa. Banyak dari murid dan anaknya sendiri yang kemudian menjadi dalang yang berhasil. Abah Sunarya pernah menjadi anggota pengurus Yayasan Pedalangan dan Pepadi Kabupaten Bandung.

Seiring dengan perjalanan waktu, Giri Harja semakin banyak penggemar dan selalu melakukan inovasi. Saat ini masyarakat tidak hanya dapat menyaksikan pertunjukan wayang Giri Harja secara langsung, tetapi dapat pula menyaksikan melalui berbagai media yang telah diproduksinya (kaset, Audio CD dan VCD/DVD). Sebagai pelengkap pertunjukan wayang di Padepokan ini juga melestarikan kesenian yang lain seperti tari Jaipong yang biasanya di pakai untuk mendampingi pertunjukan wayang, juga pameran kesenian lukis yang dilaksnakan setiap ada pertunjukan wayang golek yang digelar secara bersamaan. Karena itu Padepokan Giri Harja sangatlah penting keberadaannya bagi Masyarakat Jelekong dan para seniman lainnya, karena dengan adanya padepokan ini kesenian Wayang Golek dapat dijaga dan dilestarikan, serta generasi Dalang tidak habis.

Saat ini masyarakat Jelekong masih sangat semangat untuk melestarikan warisan para leluhurnya. Terlihat pada peragaan untuk memainkan wayang masih terus diajarkan sampai saat ini. Tidak hanya peragaan saja, tetapi pembuatan wayang goleknya sendiri masih banyak menarik perhatian untuk dipelajari oleh  seluruh kalangan. Menariknya, di padepokan Giri Harja walaupun melestarikan seni tradisional, mereka tetap memperhatikan perkembangan era globalisasi. Inovasi terus dilakukan, baik bentuk dan tampilan wayang maupun seni pertunjukannya sendiri. Giri Harja ini sangat tepat untuk dijadikan padepokan tempat pelestari wayang golek, karena dukungan dari masyarakat sekitarnya juga sangat tinggi.

Diharapkan, dengan banyaknya kalangan yang tertarik dengan salah satu seni di Bandung selatan, dapat lebih mengenalkan wayang golek ke masyarakat luas di Indonesia sehingga memunculkan rasa kepemilikan dari seni ini dan membantu melestarikannya. Karena saat ini terlihat bahwa wayang golek ini lebih diminati untuk dipelajari oleh negara lain daripada di negara sendiri. Contohnya, lebih banyak warga asing terurama dari negara Prancis yang lebih tertarik untuk mempelajari baik seni pedalangan maupun seni pembuatan wayang golek sendiri.

Sumber : Anhari, Nitri. 2019. Pelestarian Wayang Golek di Padepokan Giri Harja Jelekong Kabupaten Bandung Jawa Barat 2009-2018. Historia Madania. 1(1): 201-213

Oleh Diah Indriati – KABUMI UPI


Sepintas tentang Angklung

Category : Angklung

Berbicara tentang angklung tentunya tidak bisa dilepaskan dari daerah Jawa Barat. Alat musik multitonal atau bernada ganda ini memang berkembang di masyarakat Sunda. Angklung merupakan alat musik tradisional Jawa Barat yang terbuat dari potongan bambu. Alat musik ini terdiri dari 2 sampai 4 tabung bambu yang dirangkai menjadi satu dengan tali rotan. Tabung bambu diukir detail dan dipotong sedemikian rupa untuk menghasilkan nada tertentu ketika bingkai bambu digoyang.

Seiring perkembangan angklung, UNESCO (Badan Kebudayaan PBB) akhirnya menetapkan alat musik angklung sebagai salah satu warisan budaya tak benda dunia di Nairobi, Kenya, pada 16 November 2010. Hal ini tentu saja membuat masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Barat sebagai asal alat musik tradisional ini, merasa sangat bangga dan gembira.

Keberadaaan angklung tidak terlepas dari Bapak Daeng Soetigna yang menemukan alat musik berbahan bambu tersebut di sekitar tahun 1938. Pada awalnya, angklung hanya digunakan untuk acara yang bersifat kesenian bertaraf lokal dan tradisional. Namun kemudian, angklung berkembang dan mulai dikolaborasikan dengan alat musik lainnya, seperti piano, gitar, drum, dan bahkan dalam bentuk orkestra. Angklung juga dipentaskan dalam pertunjukan-pertunjukan musik mulai dari yang bertaraf regional, nasional, hingga internasional. Bahkan konon, permainan musik angklung pernah diperdengarkan pada Konferensi Asia Afrika yang pada tahun 1955 digelar di Gedung Merdeka Bandung.

Jika Indonesia tidak terus-menerus mengembangkannya, maka penetapan angklung sebagai warisan budaya dunia bisa menjadi bumerang karena negara manapun bisa mengembangkan dan melakukan inovasi terhadap alat musik ini.


Cari di sini

Dapatkan Update Berita Terbaru dari Kami

Enter your email address to get our latest updates.

Change Language