ANGKLUNG, WARISAN BUDAYA SUNDA

ANGKLUNG, WARISAN BUDAYA SUNDA

Category : Artikel , News , News , Slider

The power of angklung bisa menghilangkan ego. Karena setiap angklung memiliki satu nada sehingga perlu bersama-sama memainkannya agar tercipta melodi dan harmoni. Nature and Culture in Harmony, filosofinya.”         

Angklung merupakan salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Terbuat dari bahan dasar berupa potongan bambu. Alat musik ini terdiri dari 2 sampai 4 tabung bambu yang kemudian dirangkai menjadi satu dengan tali rotan. Masing-masing tabung bambu dipotong sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan alunan nada yang berbeda dan indah ketika bambu digoyangkan. Bunyi yang bergetar membentuk susunan nada yang berbeda dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras atau tangga nada alat musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog. Laras salendro merupakan sistem urutan nada yang terdiri dari lima nada dalam satu gembyang (oktaf), nada diantaranya; 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem). Istilah ji, ro, lu, mo, nem tersebut merupakan nama singkatan angka dari bahasa Jawa. Laras salendro ini dapat memunculkan perasaan gembira, ramai, menyenangkan, juga mampu menghasilkan suasana kesedihan, kerinduan, rasa cinta, dan lain-lain. Sedangkan laras pelog merupakan tangga nada yang berbeda dengan laras salendro. Nada-nada tersebut diantaranya; 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 4  (pat), 5 (mo), 6 (nem) dan 7 (pi). Susunan tangga nada pelog kurang lebih sama dengan susunan tangga nada mayor (do, re, mi, fa, so, la, si, do). Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah semua jenis awi temen (bambu berwarna putih) dan juga awi temen wulung (bambu berwarna hitam).

Angklung merupakan tabung bambu yang ketika digoyangkan, dapat menghasilkan satu nada setiap angklungnya. Alat musik angklung ini pun juga telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Karya Agung Warisan Budaya Takbenda sejak November 2010 waktu setempat di Nairobi, Kenya. Menurut UNESCO, angklung telah memenuhi kriteria sebagai warisan budaya takbenda dunia antara lain karena, angklung merupakan bagian penting identitas budaya masyarakat di Jawa Barat dan Banten. Juga angklung mengandung nilai-nilai dasar kerjasama, saling menghormati, dan keharmonisan sosial. Menurut filosofi para Karuhun Urang Sunda zaman dahulu, kehidupan manusia diibaratkan seperti angklung. Tabung tersebut mempersonifikasikan manusia, yakni menggambarkan manusia harus hidup bersosialisasi. Tidak hanya itu, tabung angklung yang terdiri dari tabung besar dan kecil diibaratkan sebagai perkembangan manusia. Kedua tabung tersebut mempunyai makna bahwa manusia tahu dan paham akan batasan-batasan dirinya, menciptakan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.

Angklung diceritakan sangat erat kaitannya dengan budaya agraris masyarakat Sunda yang mengandalkan pertanian sebagai penghidupannya. Dalam sejarah, dahulu terdapat Kerajaan Sunda di nusantara dan dikatakan bahwa instrumen musik bambu hadir dalam lingkup budaya agraris tersebut. Menurut I Ketut Yasa, masyarakat agraris untuk mencapai keberhasilannya menggunakan dua jalur, yaitu yang bersifat rasional dan irrasional. Jalur rasional bisa dilihat dari bagaimana masyarakat agraris di tatar Sunda dalam mengolah lahan, membuat alat-alat bantu dan lain-lain. Adapun jalur irasional, ada kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan. Orang-orang Baduy yang dianggap sebagai sisa-sisa suku Sunda asli, menerapkan alat musik bambu sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Kemudian, permainan alat musik bambu dengan membawakan lagu-lagu sebagai persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci disertai dengan pengiring tabuh.

Dalam kapasitasnya sebagai alat musik, angklung merupakan bentuk alat musik hasil kreativitas individu pembuatnya. Pada jaman dahulu awal adanya alat musik angklung hanya terdiri dari Laras salendro dan pelog yang mana meliputi Angklung Tradisional Dogdog Lojor, Angklung Baduy, Angklung Buncis Banten Kidul, Angklung Buncis Cigugur, Angklung Gubrag, dan Angklung Badeng dan seiring berjalannya waktu angklung mulai berkembang dalam Laras yang digunakan yaitu diatonis kromatis yang terdapat pada Angklung Padaeng. Bentuk dasar angklung di atas semuanya itu sama, terdiri dari susunan potongan bambu bernada dan rangka tempat meletakkannya. Perkembangan angklung ini dipelopori oleh tokoh yang sangat berperan dalam pelestarian angklung, yakni Udjo Ngalagena dan Daeng Soetisna. Nada tradisional berlaras pelog dan salendro yang dikembangkan oleh seorang tokoh Udjo Ngalagena ini kemudian diinovasikan oleh salah seorang tokoh bernama Daeng Soetisna menjadi tangga nada diatonis kromatis sehingga membuat angklung semakin leluasa dimainkan harmonis bersama dengan alat-alat musik barat.

Penyebaran angklung ini begitu meluas dan tersebar sehingga menimbulkan perkembangan dan menciptakan keanekaragaman jenisnya. Umumnya, perbedaan berkisar pada variasi rangka, hiasan, serta jumlah tabung (nada). Pertama, Angklung Kanekes yang berkembang di wilayah Kanekes berfungsi bukan semata-mata untuk hiburan, namun menjadi bagian dari ritus padi yang dibunyikan secara bebas (dikurulungkeun). Biasanya dibunyikan ketika masyarakat menanam padi di ladang. Kedua, Angklung Reyog yang berkembang di Jawa Timur dan digunakan sebagai pengiring tarian Reyog Ponorogo. Ciri khas dari angklung ini adalah bersuara keras dengan dua nada serta berbentuk lengkungan rotan yang menarik dengan hiasan benang berumbai indah. Hasil suara yang dihasilkan pun sangat khas, yakni ‘klong-klok’ dan ‘klung-kluk’. Ketiga, Angklung Banyuwangi yang berkembang di Jawa Timur yang difungsikan untuk ronda atau membantu jaga malam. Keempat, Angklung Dogdog Lojor yang tersebar di sekitar Gunung Halimun dan berfungsi untuk memeriahkan acara khitanan dan acara-acara lainnya. Kelima, Angklung Gubrag yang berkembang di Bogor dan berfungsi untuk menghormati Dewi Padi dalam kegiatan menanam padi, mengangkut padi, dan menempatkan ke lumbung. Keenam, Angklung Badeng yang berkembang di Garut dan berfungsi untuk kepentingan dakwah Islam dan untuk acara-acara yang berhubungan dengan penanaman padi. Ketujuh, Angklung Buncis yang berkembang di Baros (Bandung) yang awalnya digunakan sebagai ritual yang berhubungan dengan padi dan sekarang difungsikan sebagai hiburan semata. Angklung Buncis ini berlaras salendro. Selanjutnya, Angklung Padaeng atau sering dikatakan sebagai angklung nasional dengan tangga nada diatonis kromatis yang diciptakan oleh Daeng Soetisna. Adapun yang terbaru, ada Angklung Toel yang diciptakan Kang Yayan Udjo serta Angklung Sri-Murni yang digagas oleh Eko Mursito Budi yang khusus diciptakan untuk keperluan robot angklung.

Alat musik tradisional angklung ini pun menjadi salah satu objek pembelajaran sekaligus pelestarian kebudayaan Jawa Barat yang juga dikelola oleh KABUMI UPI dalam mengembangkan sekaligus melestarikan kebudayaan nusantara melalui para mahasiswa pecinta dan pegiat budaya yang berada di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Angklung yang terdapat di KABUMI ini terdata ada sebanyak 200-an buah. Sehingga dengan diterbitkannya artikel ini, penulis mengharapkan agar pembaca mampu menambah wawasan serta memiliki kepekaan dan kecintaan yang tinggi terhadap budaya nusantara, khususnya alat musik tradisional angklung sehingga warisan yang kita miliki bersama ini dapat terus ada dan terjaga.

Oleh : Vivi Wulandari – KABUMI UPI

Sumber :

Hermawan, D. (2013). Angklung Sunda sebagai Wahana Industri Kreatif. Jurnal Seni dan Budaya, 172-175.

Rosyadi. (2012). Angklung: Dari Angklung Tradisional ke Angklung Modern. Jurnal Patarjala, 29-37.


Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Cari di sini

Dapatkan Update Berita Terbaru dari Kami

Enter your email address to get our latest updates.

Change Language